Tahun Baru Islam di Tengah Pusaran Pandemi

Tahun Baru Islam di Tengah Pusaran Pandemi

Mafhum bagi jamak orang bahwa 1 Muharram merupakan salah satu hari besar bagi umat muslim, yakni sebagai tahun baru Islam. Namun fakta di masyarakat global, pesona dan kemashuran tahun baru bagi agama dengan pemeluk lebih dari 1,8 Milyar ini, nampak redup bahkan di Indonesia sebagai negara bermayoritas muslim pun tidak kuasa untuk sekedar bersanding dengan kedigdayaan dan kepopuleran tahun baru masehi. Realitas sosial ini memang nampak sangat ironis, dan tentu akan semakin sulit untuk diperbaharui pada masa covid ini, jika muslim tidak bisa beradaptasi dengan perubahan yang sangat masif pada semua sendi kehidupan sebagai akibat dari penyebaran pandemi yang belum jelas kapan akan berakhir.


Pada konteks sejarah, maka dapat ditemukan fakta bahwa pijakan penetapan awal tahun Islam ini mendasarkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad atas usulan seorang sahabat Ali Bin Abi Tholib pada musyawarah di masa ke kholifahan Umar Bin Khotob. Amirul Ulum dalam artikel “Menelisik Histori Muharam dan Hijriyah” yang tayang di laman nu.or.id, menjelaskan bahwa Muharam ditetapkan sebagai bulan pertama penanggalan hijriah karena pada bulan ini, Nabi Muhammad SAW pertama kali berniat dan merencanakan akan berhijrah. Setelah merencanakan hijrah, Nabi Muhammad SAW merealisasikan niatnya itu dengan pergi dari kota Mekkah pada Kamis di akhir bulan Shafar dan keluar dari tempat persembunyiannya dari gua Tsur pada tanggal 2 Rabiul Awal atau 20 September 622 M untuk menuju ke Madinah. Dari kesepakatan dan penetapan itulah tahun Islam mashur dengan sebutan tahun hijriyah.
Semangat hijrah yang berakar dari kata “hajara” (bahasa Arab) yang bermakna berpindah (tempat, keadaan ataupun sifat) menjadi sangat relevan jika kita korelasikan dengan kondisi sosial masyarakat saat ini yang mengalami perubahan pada multi aspek kehidupan akibat terdampak merebaknya pandemi covid-19. Pandemi yang telah mengukung masyarakat dunia hampir 2 tahun ini, menjadi pemicu besar agar setiap manusia mampu melakukan hijrah demi menjaga eksistensinya. Tanpa mampu melakukan perubahan maka bisa dipastikan muslim akan terlempar dan tergilas dari ganasnya percaturan kompetisi global dan akan sangat sulit menegakkan kejayaan Islam sebagaimana diimpikan melalui dicetuskannnya tahun baru hijriyah ini.
Kontektualisasi hijrah pada pusaran pandemi sekarang ini bisa terimplementasikan pada berbagai segmen kehidupan yang meniscayakan reduksi berelasi dan dialektika secara tradisional, menuju berkoneksi secara modern yang syarat dengan muatan digital dengan tetap mempertahankan virtue yang menjadi identitas dari muslim. Kreatifitas bisa kita mulai dari aktivitas kecil sesuai dengan passion dan taste kita masing-masing, misalnya mengembangkan penjualan dan pemasaran barang dan jasa by online delivery, mengagendakan pertemuan dengan online, sehingga tercipta sebuah gelombang gerakan transformasi secara komunal dan bisa menggerakkan roda kehidupan masyarakat untuk survival.

Aktivitas hijrah Rasulullah SAW mengajarkan kepada semua umat untuk selalu melakukan transformasi guna adaptasi terhadap perubahan sosial masyarakat yang pasti terjadi. Hijrah dengan gamblang menunjukkan kepada manusia bahwa pencapain sebuah tujuan mesti dilakukan dengan multi cara, dengan dilengkapi keteguhan hati serta pantang menyerah guna mencapainya. Maka moment tahun baru kali ini, mari kita jadikan spirit untuk selalu melakukan transformasi kehidupan kita sebagai muslim, baik pada aspek mindset, attitude, serta budaya baru kita semua, sehingga pesona kejayaan muslim tetap dapat kita jaga, meskipun himpitan pandemi masih mendera kita… Selamat tahun baru 1443 Hijriyah.

Penulis: Dr. Ahmad Salim, MPd (Kaprodi PAI UAA)